Happy 2nd Birthday My lovely daughter Sherry

 

18 April 2016

Selamat ulangtahun anakku.. Saya tiba2 langsung flashback ke saat2 hamil sherry, saat lahiran, dan saat2 dia baru lahir. Langsung mau nangis deh! Hahaha. Selama 2 tahun ini gak pernah seharipun gak bersyukur atas kehadiran anak kecil yang cantik ini. Saya bersyukur gak pernah sekalipun melewatkan perkembangan Sherry. Saya yang menemaninya sepanjang hari dari mulai ia terbangun sampai tidur lagi.

Sherry sekarang bawel minta ampun, sudah bisa cerita, sudah bisa melucu, sudah pintar berinteraksi sosial dengan sekitar, Sherry paling cepet kalau bilang “gak mau”. Apa saja makanan ditawari bilangnya “gak mau” duluan. Makannya masih susah, itu-itu saja setiap hari, saya yang masak jg jd bosan. Tapi mau gimana, mama saya bilang saya dulu seumur Sherry jg sama begini. Sekarang apa pun juga dimakan, dikasih makanan gak pernah nolak. Hahaha. Mungkin nanti akan ada saatnya jg Sherry pintar makannya yaa.. 🙂

Sherry itu anaknya feminin sekali, saya sering memperhatikan, dia ini berbeda sekali dengan saya yang kecilnya suka manjat-manjat dan gak bisa diem. Kesukaannya Sherry adalah mainan2 yg bisa diotak atik sambil duduk tenang. Misalnya bermain ‘playdoh’, pasir kinetik, menggambar, melihat2 buku bergambar. Jadi bisa dibilang, gak cape jagain Sherry, lumayan jg lah. Hehehe.

Saya paling paling luluh sekali kalau dia peluk saya tiba2, peluk dikaki, atau peluk dari belakang waktu saya sedang duduk, kemudian menyunggingkan senyumnya kepada saya sambil bilang “sayang mama”. Hati ini jadi berbunga-bunga rasanya. Padahal setiap hari juga ketemu yaa. 😀

Semakin hari semakin banyak kepintarannya. Sudah bisa menghitung bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sudah kenal warna-warna, sudah hapal sekali dgn nama-nama binatang. Tapi kalau ketemu aslinya langsung gak berani dekat-dekat. Sherry termasuk anak yg mudah sekali diajari kalau menurut saya, karena dia mau mendengar, mau duduk diam, dgn senang hati pula mengikuti instruksi. Pokoknya asal ditemani sepanjang hari, anaknya anteng dan tenang deh. Padahal saya dulu kecil gak begini2 amat kayaknya. Hahaha.

“Sekali lagi, selamat ulangtahun untuk kamu anakku. Mama berdoa agar kamu selalu berada di jalan yg diridhoi Allah SWT, agar selalu dimudahkan rejeki km, agar km menjadi anak yg solehah dan pintar.”

Tepat hari ini pula Sherry saya sapih total. Setelah 2 bulan saya bertahap mengurangi asi-nya, mulai hari ini Sherry gak menyusu sama sekali. Alhasil, ulangtahun ini jadi penuh drama di waktu tidur siang dan malam hari.  Tapi seperti komitmen kita berdua ya nak, mulai usia 2 tahun Sherry udah gak ‘nenen’ lagi 😉

Advertisements

Setahun Anakku

Selamat ulang tahun untuk anakku Sherry. Gak kerasa ya sudah setahun jg saya menjadi seorang ibu. Bersyukur lah saya, Sherry tumbuh menjadi anak yg cantik dan cerdas. Usia 11 bulan persis dia bisa jalan tanpa berpegangan 3 langkah. Gak butuh waktu lama dia sudah lancar berjalan, saya rasanya gak sampai harus capek menitah-nitah. Yah pokoknya usia 12 bulan sudah lancar jalannya dan sudah bisa menyamai langkah org dewasa.

Rasanya baru kemarin ya saya hamil dan melahirkan. Sherry memberikan banyak warna dalam hidup kami semua. Kesukaannya balon warna-warni, boneka, dan film favoritnya Dibo the Gift Dragon. Kalau sudah nonton Dibo, tangannya diangkat keatas terus “dadah” sambil pantatnya goyang. Hahaha. Semakin pintar dan sehat selalu ya sayaang.. :*

Pernah dengar tentang metode BLW untuk mpasi, saya pernah cari tahu sedikit tapi gak berencana kesana karena saya pengen nyiapin bubur dan puree untuk Sherry trus disuapin deh ke anaknya. Sedangkan BLW itu kan metode yg skip puree dan bubur saring dan anak dibiarkan makan sendiri sesuka hatinya habis atau tidak habis, nah kalau saya pakai metode itu pikir saya Sherry kan blm bisa mengunyah makanan sendiri biasa cuma minum ASI.

image

Sherry pertama MPASi

Sherry pertama BLW

Sherry pertama BLW

Kenyataannya pada hari pertama Sherry disuapi puree dia terlihat seperti ingin muntah. Mangap memangketika disamperin sendok. Tapi mukanya kaget dan bingung kemudian puree Alpukat itu terbuang lg keluar mulutnya waktu dia ‘mingkem’. Oke. Mungkin karena hari pertama. Gagal itu biasa.

Hari kedua: Sherry nangis waktu disuapi puree alpukat campur asip. Terlihat dia gagging lalu langsung minta nenen. Hmm mungkin dia gak suka ya bau asip, karena tdk pernah minum asip bau asip yang sudah pernah beku dan asi segar kan beda.

Hari ketiga: Gak mau duduk dikursi. Minta nenen. Nangis. Gagal lagi saya menyuapi Sherry. Padahal sudah tidak dicampur asip dan rasanya sudah dipastikan enak waktu saya cicipi.

Begitu seterusnya, sampai 2 minggu lamanya Sherry belum pernah benar2 makan. Jujur saya bingung, stress, dan bahkan pernah sampai menangis karena Sherry kok susah bgt makannya. Berbeda dengan cerita ibu2 lain yg anaknya seumur dgn Sherry. Selama mpasi minggu2 awal ini, cuma puree buncis yg pernah dia makan habis, mangga yang dia suka, dan air jeruk baby yang mau dia teguk. Entah karena teksturnya, entah karena dia masih beranggapan kalau laper itu ya nenen, entah karena ‘timing’ pemberian makan yg gak tepat. Bisa jadi saat itu dia lg ngantuk jadi rewel.

Terus menerus saya suapi tapi hasilnya nihil dan saya stress bukan main. Melihat sherry nangis lagi setiap disuapi saya tdk tega, mau saya paksa nanti dia malah jadi trauma. Tapi mau sampai kapan? Nanti dia gak belajar makan sedangkan seharusnya dia sudah mulai naik tekstur. Lalu kalau sudah besar nanti jadi terbiasa setiap makan harus dibujuk rayu malah jadi lebih sulit lagi kan. Makan harus sambil jalan, harus diiming-imingi ini itu.

Untungnya Sherry suka sekali jeruk baby. Jadi setiap dia selesai “makan” pasti sedia potongan jeruk baby dan itu habis dia emut2 dan gigit2. Yaah lumayan meskipun makanan ga masuk tp ada air jeruk yg masuk. Gak sengaja aja saya menemukan Sherry suka gigit2 potongan jeruk baby. Waktu saya lagi makan, dia sibuk ganggu2. Makanan saya mau dia ‘caplok’ dan daripada dia acak2 makanan saya lebih baik dia saya kasih makanan juga kan trus dia sibuk makan. Eh gak taunya 2 potong habis loh! Dia anteng makan, saya jg anteng makan gak diganggu. Hehehe.

Setelah 3 minggu Sherry terus2an susah makan, susah disuapi saya udah hampir nyerah dan gamau pusing lg kalau makanan gak habis. Jadilah saya mengganti metode makan anak saya. Dengan modal ilmu sekilas2 aja, saya iseng pagi itu (8 Nov 2014) gak bikin puree buat Sherry. Saya sedia ubi kukus, buncis kukus, dan (tetep) jeruk baby saya potong memanjang trus saya letakkan begitu aja diatas tray nya. Gak disangka si ubi, si buncis, si jeruk baby masuk semua kemulutnya. Dia gigit, dia liat2, dia muntahin lg kalau pas potongannya besar dan Sherry kelihatan senang sekali. Senang acak2 makanannya mungkin. Hehehe. Tp yang jelas waktu saya tahu cuma jeruk baby yg dia makan habis saya biasa aja tuh! Gak kepikiran lagi kayak kemarin2 dan setelah makan yang biasanya Sherry langsung manja gelayutan ngambek habis dipaksa makan, kali ini dia malah main seneng banget seperti yg tadi dia bukan habis makan.

Saya banyak baca di web sana sini banyak sekali manfaat BLW. Jadi pikir saya, daripada Sherry susah2 saya suapi gak pernah mau lebih baik dia makan sendiri. Dia tidak merasa dipaksa harus makan, juga tidak dipaksa harus menghabiskan makanannya. Selain itu juga dia belajar mandiri dan bisa berkesplor dengan makanannya. Jadi prinsip ini cocok sekali sepertinya dengan saya dan Sherry. Saya jadi tidak perlu stress2 lg kalau makanan tdk habis. Yg penting ASI saya masih banyak dan lamcar Inshaa Allah kebutuhan gizi Sherry tetap terpenuhi.

Persiapan MPASI Sherry

image

Wow gak kerasa 4 hari lagi usia Sherry memasuki usia setengah tahun dan 4 hari lagi juga Sherry memulai makan pertamanya. Rencana saya mulai dengan Alpukat, katanya sih buah Alpukat itu yg rasanya paling mirip dengan ASI dan jarang menyebabkan sembelit. Saya beli dari hari minggu kemarin supaya Sabtu ini sudah betul2 matang.

Untuk referensi saya banyak baca dari internet dan buku karangan dr. Tiwi. Saya sudah menyiapkan berbagai peralatan tempur dari sejak Sherry berusia 5 bulan. Hehehe. Semangat betul ya :p

Alhamdulillah usia 5 bulan Sherry sudah bisa duduk dengan bantuan, dan memang Sherry suka sekali jika didudukkan. Herannya dia lebih dulu bisa duduk baru tengkurap dan terlentang. Sewaktu Sherry berusia kurang dari 4 bulan, pernah sekali dia tengkurap tapi setelah itu tidak pernah lagi. Saya sempat khawatir dia tidak akan bisa tengkurap apa memang dia tidak suka. Yang jelas lama sekali saya mengajarinya agar mau tengkurap dan terlentang. Ya, setiap dia saya balikkan dia nangis minta diangkat. Ya sudah saya tidak paksa, Sherry cuma mau bermain sambil didudukkan.

Akhirnya usia 5 bulan Sherry mahir tengkurap dan terlentang sendiri, tanpa dipaksa tentunya. Hehehe. Sekarang dia sudah biasa meskipun tetap lebih suka bermain sambil duduk. Tapi bukan masalah, yang penting saat makan nanti dia sudah bisa duduk sendiri di kursi makannya. Horeee!

 

 

The best gift God ever give to me: Sherry Fakhira Ramdhani

1403202342978

 

18 April 2014

Subuh sekitar jam setengah 5 saya tiba2 merasakan ada bunyi “pop” dan air ketuban membasahi kasur. Saat itu saya sedang menginap di rumah mertua karena alasan dekat dengan rumah sakit.

Segera saya, suami, dan mama mertua berangkat ke rumah sakit. Suster2 membantu saya berganti baju untuk bersalin, dan mengecek pembukaan saya. Saat itu baru pembukaan 1 sempit. “Duh saya takut diinduksi. Ketuban sudah pecah tapi pembukaan baru 1.” Gak lama suster mengecek tensi saya sambil menanyakan data2 saya, begitu diukur tensi saya saat itu 150/90. “Oh ini pasti saya di caesar.” Ntah saya harus lega atau engga ya, tapi waktu suster telf dokter dan dokter memutuskan untuk mengoperasi saya, saya lega. Hehehe. Bukannya takut melahirkan normal sih. Tapi setahu saya kalau air ketuban sudah pecah anak harus segera dilahirkan, nah kalau saya diinduksi lalu saya mulas terus tensi saya tinggi terus akhirnya di operasi2 juga, kan saya jadi sakit 2 kali. Hehehe.

Singkatnya, gak lama dokter dtg. Saya masuk ruang operasi jam setengah 8 pagi. Dibius lokal. Gak lama anak saya lahir pada jam 7.50 pagi. Lalu anak saya melalui proses IMD sebentar dan dibawa ke ruang bayi. Lalu dijait deh perutnya. “Wow. Cepet banget ya! Kalau dengar cerita teman2 saya yg pernah melahirkan jg penuh drama. Saya melahirkan anak saya, cuma begini doang! Hahahaha.” Begitu kira2 ya isi hati saya waktu di dalam ruang operasi.

Ternyata penderitaan saya cuma belum dimulai aja sodara2. Waktu itu masih ada efek bius alias sakitnya belum kerasa. Menjelang sore saya belajar miring kiri dan kanan, dan YAAMPUUN SAKIT BANGETTTT!!! Tapi saya harus bisa, karena sebentar lg jam 3 sore anak saya boleh masuk kamar perawatan lalu mulai belajar menyusui deh. Waahh saya semangat bgt membayangkan itu, jadi sakit pun saya lawan.

Si cantik itu diberi nama Sherry Fakhira Ramdhani. Jantung saya deg2an waktu pertama Sherry diletakkan disamping saya untuk disusui. “Ya Allah. ALHAMDULILLAH anak saya yg dinanti telah lahir sehat sempurna dan cantik sekali.” Ternyata Sherry belum sehari lahir ke dunia tp sudah jago mimik susu. Hihihi. Padahal ASI saya belum keluar saat itu. Tp dia tetap sibuk ‘ngenyot2’ hehehe. Lucu ya.

Esok paginya saya belajar jalan. Ternyata lebih sakit lagi! Tapi harus dilawan juga, saya harus cepat pulih. Karena saya mau mengurus sendiri anak saya. Harus bisa! Alhamdulillah semua bagus, proses recovery berlangsung cepat.

Baru pada hari ke 3 ASI saya keluar. Saya tahu kalau bayi baru lahir masih bisa tahan 72 jam tidak minum apapun. Makanya saya tetap percaya diri meskipun mertua saya kelihatannya mulai khawatir ASI saya tdk keluar. Sempat ada yang menyarankan untuk diberi sufor (biasa deh) tapi saya sudah bertekad anak saya harus ASI EKSLUSIF dan saya tidak pernah goyah iman. Hehehe.

Alhamdulillah ASI saya ternyata melimpah. Saya sempat stok banyak sekali ASIP untuk Sherry.

Hasilnya, kenaikan berat badan anak saya pesat sekali. Satu kilo lebih setiap bulannya. Hahaha. Yaa gak heran kalau melihat dari baru lahirnya Sherry pintar mimik susu. Sampai rumah ternyata gembul sekali yaa.. 😆

Hari ke 3 kami berdua sudah bisa pulang. Horraaayy!

Dan kehidupan saya menjadi seorang ibu pun resmi dimulai..

Cerita kegalauan saya antara caesar atau normal ya?

Minggu ke 37

Mulai sekarang saya memasuki fase seminggu sekali kontrol. Tepat 37 minggu saya kontrol kembali ke dokter kandungan dan mendapati tensi saya normal kembali. Sejak memasuki trimester 3, tanpa diduga2 tensi darah saya justru berangsur normal dan stabil. Sampai 2 minggu kemarin meskipun tekanan darah saya normal, dokter tetap menyarankan saya untuk menyiapkan mental untuk caesar.

Tapi hari ini, tiba2 dokter berkata bahwa dgn mengamati tensi saya yang normal dan stabil mendekati persalinan ia tidak bisa membohongi dirinya kalau saya mungkin untuk melahirkan normal. Dengan catatan pada masa persalinan dan observasi tensi saya tidak melonjak tinggi. Karena apabila itu terjadi maka caesar adalah satu2nya cara saya melahirkan. Selain riwayat hipertensi yang saya miliki, saya tidak memiliki indikasi medis lain yg mengharuskan saya operasi caesar. Jadi masih bisa dicoba untuk normal selama berjalan dgn lancar.

Saya bingung. Lalu dokter saya bilang semua keputusan ada di keluarga, beliau meminta saya untuk berdiskusi dulu dan dtg lg minggu depan. Segala resiko saya pertimbangkan. Kalau saya mencoba normal, lalu tensi tinggi maka saya tetap hrs di caesar dan tetap juga merasakan mulas. “Sakitnya jd 2 kali donk!”, pikir saya waktu itu. Belum lg tindakan caesar yg dilakukan menjadi tidak terencana. Bagaimana kalau pd saat tensi saya tinggi tim operasi tidak siap. Tapi melahirkan caesar juga bukannya tanpa resiko. Biar bagaimanapun, normal adalah jalan terbaik utk melahirkan jika tdk ada alasan medis yang mengharuskan saya utk caesar seperti hipertensi itu kan misalnya.

Begitu sampai dirumah, saya diskusi dengam suami. Pikirannya sama dengan saya waktu itu, ia takut kalau saya mencoba normal, saya stress akibat kontraksi dan tensi tinggi lalu justru berakibat fatal buat saya. Naudzubillah. Apalagi suami saya melihat begitu sampai dirumah, tiba2 nyali saya untuk melahirkan normal ciut. Saya jd takut menghadapi sakitnya persalinan. Lalu saya jg tdk tahu kapan bisa melahirkan normal, menunggu bayi saya turun panggul kan membuat semakin harap-harap cemas.

Selama hampir 9 bulan saya hamil ini, saya terus menerus menghibur diri karena kemungkinan caesar yg lebih besar saya hadapi saat persalinan nanti. Saya berpikir, ya kalau caesar hikmahnya mungkin saya jadi tdk harus merasakan mulas atau sakit kan lalu saya jg bisa segera bertemu dgn bayi saya krn caesar pasti dilakukan sebelum minggu ke 39.

38 minggu

Saya kontrol lagi, kali ini niatnya ingin memberitahu dokter saya kalau saya ingin caesar saja. Besok atau lusa. Kapan saja sebelum minggu 39. Seperti biasa, sebelum kontrol saya menimbang berat dan mengecek tensi. Tensi oke. Saya kontrol diantar suami dan mertua saya. Sampai di dalam, begini kira2 percakapan saya dgn dokter:

dr. giana (G) : gmn? brp td tensinya?
saya (s) : itu dok. normal kan.
G : wah, bagus nih! Jadi gini ya san, nanti kalau km ngerasa ada air kyk pipis tp gak bisa ditahan keluar atau rembes biar sedikit jg jgn ragu2 langsung aja ke rs. jgn pake mikir ketuban atau bukan ya. biar bidannya aja nanti yg ngecek. kalau mulas tunggu kontraksi mulai 7-10 menit sekali lah, langsung ke rs. kalau keluar lendir atau flek kecoklatan gak apa lah km tunggu aja sampai mules baru ke rs.
S : (Baru jg saya mau blg minta di caesar nih) hmm.. jd dok, misalnya nanti tensi saya tinggi gimana?
G : yasudah langsung kita ambil tindakan, operasi saat itu juga. tapi itu kan bkn hal yg bisa diprediksi oleh dokter ya. jadi tetap kita berusaha saja dulu.
S : kalau pembukaannya lambat dok, misalnya berhenti, kalau ada riwayat hipertensi bisa diinduksi juga?
G: Boleh saja.
S : hmm.. masalahnya saya takut dok, keluarga saya ada yg eklamsia terus dia melahirkan normal jadi pendarahan terus dia pingsan.
G : Kan kamu bukan eklamsia. (Dokternya mulai senyum setengah ketawa)
S : Nah sebelum persalinan dia ga diketahui ada eklamsia………. (belum selesai cerita)
G : Kamu kan dari sejak awal diperhatikan tensi dan kehamilannya. Sejauh ini km baik2 aja, kekhawatiran saya kalau tensi kamu tinggi memang eklamsia. (Dokternya ketawa) Kalau diliat dari gelagat2 kamu nih, kamu takut ya melahirkan normal?
S : hehehe
G : Gini san, saya bisa aja menyarankan kamu untuk caesar. Tapi sayang kan, tensi km bagus kok. Bayi letaknya oke. Panggul ga ada masalah. Saya akan merasa sangat berdosa kalau kamu bisa normal tapi tidak saya usahakan dulu. Nah, tapi itu terserah kamu. Kan masih ada berapa hari lg sebelum minggu ke 39, bisa besok atau lusa kamu dtg ke saya kalau km minta saya caesar. Gak masalah. Kamu tinggal diskusi aja sama saya, soal begini saya sih paling enak lah diajak diskusi. Hahahaa. Kamu solat istikharah dulu lah! Nanti gimana kamu yakinnya kamu kasih tahu saya ya.
S : (Ketawa malu ketahuan takut lalu bingung apa lagi yang mau ditanya. Ternyata dokter saya justru menyarankan normal ya!)
Lalu dr. giana menjelaskan bagaimana proses melahirkan normal dan bagaimana prosesnya bayi masuk ke dalam panggul sampai melewati jalan lahir.

Keluar dari ruangan dokter saya berpikir ulang. Mereview lg satu persatu kejadian di dalam td. Saya curhat dengan mertua, mama, dan suami saya. Semuanya sama, bilang terserah saya. Mertua dan mama saya bilang, “Kalau memang mau dicoba normal ya, waktu melahirkan itu gak sakit kok. Yang sakit itu cuma waktu kontraksinya aja. Malah selesai melahirkan kamu udah bisa cepat pulih lagi.”

Terus terang selain saya takut tidak siap menghadapi persalinan normal, saya jg sebenarnya sudah gak sabar ingin ketemu dengan anak saya. Kalau caesar dalam waktu 2-3 hari ini kan bisa segera dilakukan, kalau normal ya gak tahu harus kapan. Hehe.

Tapi lalu saya pikir lagi, kenapa Allah kasih saya pilihan seperti ini disaat akhir disaat caesar menjadi satu2nya pilihan saya saat persalinan, kenapa tensi saya bisa normal disaat akhir menjelang persalinan, dan kenapa juga selama kehamilan ini meskipun saya memiliki hipertensi tapi Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk saya dan janin saya. Bukannya itu seharusnya sesuatu yg harus saya syukuri ya. Satu lagi kebesaran-Nya yang harus saya syukuri. Jadi kenapa saya tidak mencoba untuk normal? Siapa tahu memang ini jalan yang Allah kasih utk saya, kemudahan yg selama ini saya minta disetiap doa saya. Subhanallah.

Maka saya mantapkan hati untuk mencoba bersalin normal. Kalaupun nanti memang akhirnya harus caesar, paling gak saya sudah mencoba, mungkin memang sudah jalannya seperti itu, dan mungkin ada hikmah yg lain yg tidak kita ketahui. Kalau saya memilih caesar ibaratnya seperti “kalah sebelum berperang”. Betul kan?

Wanita itu diciptakan memang untuk melahirkan. Pastinya Allah SWT menciptakan wanita untuk kuat dan bisa menghadapi rasa sakitnya. Biarlah alam yang menentukan kapan anak saya harus dilahirkan, pastinya saat itu lah saat yg terbaik. Anak saya pasti tahu kapan dia siap keluar dari perut mamanya dan dia pasti mau membantu saya pada saat persalinan nanti. Bismillah ya nak.. 🙂

*Oh ya, ngomong2 diluar cerita kegalauan saya caesar atau normal ini, dokter saya baik juga ya. Beliau cukup fair dan profesional, pro IMD dan pro normal. Diluar, banyak dokter yang belum apa2 menyarankan caesar, tapi dokter saya justru menyemangati saya untuk normal begitu tensi saya membaik. Artinya beliau fair waktu mengatakan tensi saya selalu tinggi diawal kehamilan dan mengatakan saya harus siap untuk di caesar, bukan karena ingin mencari keuntungan semata. Tapi betul-betul karena seperti itulah kondisi saya waktu itu.

Mitos vs Fakta, Dulu vs Sekarang

Selama hamil, sudah biasa saya mendengar banyak nasihat penting dan gak penting dari banyak orang. Biasanya dari mama saya dan mama mertua. Ya wajarlah, dari kedua pihak ini adalah cucu pertama mereka. Pastinya sama-sama ingin ikut terlibat dalam menjaga kehamilan saya ini. Mulai dari larangan ini dan itu lah, lalu harus begini dan begitu lah. Terus terang saya berpendapat, kebanyakan larangan-larangan selama hamil itu mitos belaka alias tidak ada dasar ilmiahnya.

Buat saya, hamil itu gak ribet. Orang hamil bukannya orang sakit. Ya untuk urusan makanan, saya biasa-biasa saja lah, Tidak banyak berpantang dan tidak pilih-pilih. Yang penting saya makan sehat, bergizi lengkap dan seimbang. Satu lagi prinsip saya yaitu tidak boleh berlebihan dalam hal apapun termasuk makan dan melakukan kegiatan. Alasannya karena yaa segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik kan.

Nah, semakin dekat hari persalinan saya semakin banyak orang-orang yang protektif terhadap saya. hmm.. bukan saya sih, tapi protektif terhadap anak saya lebih tepatnya. Hehe. Semakin banyak saya mendengar lagi banyak nasihat-nasihat dari orangtua, mertua, tante, dan saudara-saudaranya. Bukannya saya sok tahu ya gak mau terima nasihat orang lain, bukan. Saya senang orang-orang memperhatikan saya, lalu memberi nasihat untuk saya ini dan itu. Tapi setiap info yang saya dapat, saya dengar, pasti saya tanya sebabnya “kenapa?”. Bila alasannya logis ya saya terima saya anggap itu nasihat penting. Tapi untuk beberapa  nasihat kadang alasannya hanya: “karena dari dulu sudah seperti itu” nah itu dia yang saya anggap nasihat gak penting.

Hal-hal inilah yang sekarang ini sedang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Saya takut setelah anak saya lahir nanti ia jadi korban mitos-mitos orangtua jaman dulu. Biar bagimanapun saya berusaha mencari sebanyak mungkin informasi mengenai cara-cara mengurus bayi baru lahir, tetap saja pada prakteknya saya ini belum berpengalaman kan. Akan ada saatnya saya butuh juga dibantu orangtua saya. Dan biar bagaimanapun saya berusaha mengurus sendiri anak saya, pasti ada saatnya juga kan nenek dan kakeknya ingin juga mengurus cucunya.

Makanya dari sekarang, saya berusaha memberitahu orangtua saya juga jika ada hal-hal baru yang saya baca tentang mengurus bayi. Masalahnya adalah, tidak semua info baru bisa diterima orangtua saya dan itu membuat saya kesal juga. Mau dibantah tapi gimana, saya dibilangnya sok tahu. Kalau saya bilang bayi sekarang gak boleh dibedong lalu saya jelaskan alasannya, mereka bilang, “Kamu dulu dibedong gak kenapa2 kan? Kakinya malah bagus gak bengkok.”. Bersusah payah saya menjelaskan secara ilmiah dari buku dan artikel-artikel yang saya baca, selalu dipatahkan dengan kata-kata “Ah! Dari dulu juga begitu kok! Buktinya sehat semua kan anak mama?” Terus saya mau bilang apa???? 😥

Pada akhirnya, meskipun dengan orangtua sendiri saya tidak begitu saja mempercayakan anak saya kepada mereka apalagi dengan pembantu atau baby sitter. Waduhh..